Sang Dewi Yang Sukses

Titi DJ cerai (lagi).

Dan dunia infotainment Indonesia terkejut, karena mereka kelihatannya “baik-baik saja”. Termasuk aku. Tapi asli, salut banget. Entah cuma sandiwara ato memang tulus, kemarin mereka mengadakan konferensi pers dan mereka tetap kelihatan “baik-baik saja”. Mereka akan tetap jadi teman dan Titi rencananya membesarkan anak dengan bantuan mantan kedua suaminya.

Sebenarnya, apa sih definisi cinta yang berhasil?

Berdasarkan hasil pengamatan dan cerita-cerita yang aku pernah dengar, manusia itu memutuskan untuk menikah karena berbagai macam alasan. Bukan melulu karena cinta, yang seharusnya jadi penyebab utama perkawinan. Menurut aku, perkawinan yang alasan utamanya adalah cinta, adalah perkawinan yang sukses. Karena kalau didasarkan hal-hal lain, sifatnya lebih sementara meskipun tidak bisa diingkari, cinta itu juga suatu hari bukan tidak mungkin bisa hilang…

Uang bisa dicari. Kalau mau cari orang yang cantik, yang tampan, jaman sekarang bukan hal yang susah. Asal ada uang, wajah seperti dewi dari khayangan pun bisa menempel di muka kita. Kalau kita pergi ke mall, misalnya, dari sekian orang yang cantik dan tampan dan kaya di sana, berapa dari mereka yang kehidupan cintanya berhasil? Ironisnya, mungkin jika diadakan sensus, angkanya kurang dari 70%.

Dan ini teror cinta yang serius buat aku.

Pernah dengar nggak ada orang yang bilang begini? “Perceraian yang sehat lebih baik daripada perkawinan yang sakit.” Di luar konteks kerohanian, aku setuju dengan pendapat itu. Jadi kalau suatu hubungan memang udah nggak bisa disembuhkan, kenapa harus memaksakan diri?

Selain perkawinan yang berhasil, ada juga perceraian yang berhasil. Kali ini dasarnya bukan lagi cinta, tapi rasa sayang. Kebanyakan orang, bercerai artinya mendapat musuh-musuh baru, secara tidak sengaja. Mantan suami, teman-teman dan keluarganya. Mengapa? Karena “after the love has gone”, tumbuh rasa sakit yang lama-lama menjadi rasa benci. Tapi jangan kecil hati jika anda bercerai dan perceraian anda termasuk kategor “gagal” – karena lebih banyak perceraian yang gagal daripada perceraian yang sukses.

Kalau apa yang Titi katakan kemarin itu jujur dan tulus, artinya perceraiannya dengan Andrew adalah perceraian yang berhasil. Karena now they have a new relationship which is stronger and better and it’s called “friendship”.

Aku sendiri semakin bertambah dewasa (istilah halusnya untuk “tua” *grin*), semakin hati-hati. Kalau dulu perasaan aku selalu menang, sekarang pikiran harus lebih digunakan. Kalau saat ini aku masih sendiri, aku memang sedih dan kesepian, tapi aku merasa itu lebih baik daripada aku memiliki pernikahan yang gagal. Aku sendiri kemungkinan besar nggak akan menggagalkan pernikahanku sendiri, karena aku termasuk orang yang mengagungkan cinta di atas segalanya – tapi itu bukan jaminan bahwa aku akan memiliki perkawinan yang berhasil. Karena aku tidak bisa membaca hati dan pikiran orang. Kalau ada yang mengajak aku menikah, meskipun iming-imingnya “cinta sehidup semati”, toh akan lebih menyakitkan kalau di kemudian hari aku baru sadar bahwa aku cuma diperalat dan aku “dicintai” bukan karena aku, tapi karena hal lain.

Semalam perasaan itu datang lagi. Dan aku semakin yakin, motivasinya bukan cinta. Dan itu benar-benar bikin aku “ilfil”, alias “ilang feeling”. Untung Tuhan masih sayang sama aku. Seandainya orang itu adalah orang yang pandai berpura-pura dan bersandiwaira, pasti aku suatu hari “kena”. Bagusnya dia ini selalu to-the-point dan saat dia ada kesempatan untuk “cari muka” pun, dia nggak pakai :)

Buat aku, orang yang berhasil bukan orang yang karirnya sukes, bukan orang yang cantik, bukan orang yang bisa membeli dunia, tapi orang yang tulus, jujur, dan penuh cinta. Yang saat kematian memanggil pun, bukan kecantikan dan kekayaannya yang dikenang orang, tetapi kebersihan hatinya.

Seperti ibuku. Meskipun dia kesayangan ayahnya karena dia yang tercantik.

Dan aku mau seperti dia.

Kenanglah hatiku. Bukan pikiran atau besarnya hidungku. Atau “banci”-nya suaraku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s