Salon Connie

Akhirnya terjadi juga mutilasi itu. Papi memasrahkan rambutnya yang kemarin baru aku semir. Awalnya deg-degan, karena gunting rambut sendiri pun aku tak pernah. Tapi lama-lama jadi cuek. Biasa orang “layer” rambut pake bantuan sisir, aku cukup dengan jari. Hasilnya? Ya kayak gini deh, jadi pitak sana-sini :?

Kesian juga si Papi. Dulu Mami kalo gunting rambutnya rapih banget. Setelah Mami meninggal, gunting rambut deket rumah (waktu masih di Melati Raya) Rp.6,000 sekali gunting. Setelah pindah ke Bintaro, baru sekali gunting waktu Luigi dan Kirra liburan di Jakarta. Setelah itu, ada gunting sekali lagi pas Dudung nganter Maya ke erpot. Kembali ke tukang gunting langganan kampung yang Rp.6,000. Di Bintaro sini, paling murah gunting rambut Rp.25,000. Buat aku dan papi itu cukup mahal karena kita biasa hidup dengan budget Jakarta pinggiran :)

Speaking of Maya, tadi aku dan Miskiyah ketemu dirinya bersama Dudung dan Pe di Alfa. Katanya mo pulang bareng, tapi aku tunggu-tunggu di depan koq nggak keluar-keluar. Pas aku telfon, ternyata Pe lagi makan bakso A Fung. Lha, mbok ngomong gitu…

Akhirnya aku memutuskan untuk beli desktop meskipun sakit hati :) Kata James, lusa udah bisa dianter dan dia menghibur bahwa itung-itung modal kerja. Dia katanya bakal ngasih kerjaan bikin website dan terjemahan-terjemahan, tapi tahun depan. Haha. Lama ya.

Malam ini kayaknya nggak napsu makan. Entah kenapa. Mungkin gara-gara sakit hati harus beli desktop. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s