Papi Jatuh

Malam Minggu kemarin Papi jatuh di kamarnya. It was only 20:30 dan sebetulnya aku dan Miskiyah belum tidur dan kami ada di ruang tengah, nonton TV, tapi kami nggak dengar apa-apa. Sebelumnya, Papi ngiler terus dan nggak bisa nulis. Itu pun kami nggak tau karena dia nggak mau bilang sama aku sampai Minggu siang. Katanya takut aku panik…

Tadi pagi kita ke Gereja-nya misah. Papi dijemput supir temennya ke kebaktian Mandarin di daerah Daan Mogot. Aku sendiri ke Bintaro Mall sama Miskiyah naik angkot, ikut kebaktian yang jam 09:15. Sampai di rumah, Papi baru cerita dan saat itu keadaannya udah nggak apa-apa (udah nggak ngiler dan udah bisa nulis lagi), tapi aku liat mulutnya agak “merot” :cry:

Terus terang aku sedih dan panik. Aku merasa sendirian. Aku terus SMS Tante Lian (maminya Nancy), Pak Yosh dan Ci Wen di Semarang. They all responded well and I thanked them for their love and attention. Besok rencananya aku mo bawa papi ke dokter. Sebetulnya dia nggak mau, tapi aku paksa. Dia bilang nggak usah buang-buang uang, tapi ya gimana, ini kan penting. Aku harus tau dia sakit apa dan karena aku yang masak, aku harus tau dia nggak boleh makan apa aja. Mudah-mudahan sih he’s all well.

Foto ini aku ambil tadi sore setelah kita dinner. Mulutnya kayaknya udah kembali ke bentuk semula. Tadi kita berdua udah doa dan Tuhan sudah jawab, tapi tetep aja kita harus bijaksana, yaitu dengan konsultasi ke dokter.

Bantu doa, ya. Thank you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s