Jus Jeruk Atau Es Teh Manis?

Orange Juice

Jumat sore. Hujan sempat turun sebentar, tapi cukup membasahi aspal dan mengguyur debu di jalanan. Saya dan seorang teman yang sudah sekian minggu tidak bertemu, menikmati senja berdua di Lotteria – sebuah resto cepat saji Korea yang menjual makanan Amerika. Aneh, memang.

Ditemani masing-masing segelas jus jeruk, dua potong ayam goreng bersalut tepung (yang terlalu tebal), sepiring nasi untuk saya, dan seporsi kentang goreng untuk dia, serta masing-masing sepiring salad ala kadarnya, kami pun mulai bercerita tentang perkembangan kehidupan kami masing-masing.

Dia nampak lebih gemuk. “Iya nih, gue naik 5 kilo”, ujarnya mengiyakan penglihatan saya. “Tapi lo keliatan segeran sih. Pasti lo lagi seneng ya?”, ujar saya kemudian. “Ah, semu”, katanya.

Semu.

Ternyata bahagia yang semu itu bisa menambah berat badan seseorang, sama seperti kesedihan yang tulus. Saya baru tahu itu, karena terus terang saya belum pernah mengalami bahagia yang semu. Tapi kesedihan yang dalam, sering. Bahagia yang nyata pun pernah. Dan lumayan sering.

Lalu dia mulai menjabarkan kebahagiaan semunya, sampai kemudian saya teringat “penglihatan” seorang teman lain untuk si teman yang ada di hadapan saya itu. Bahwa kisah cintanya ini akan membuatnya kehilangan banyak, meskipun pacarnya sebenarnya sangat serius untuk membina masa depan bersama teman saya ini. Dan dia pun teringat hal itu. “Gue keingetan terus malah sama omongan lo itu”, katanya.

Lalu saya berpikir: Bisa saja hal ini terjadi karena memang si lelaki ini “kurang tepat” untuk teman saya, atau teman saya diam-diam tanpa sadar mengamini “penglihatan” atas dirinya itu. Entahlah. Semesta lebih tahu tentang hal ini.

Di tengah percakapan, saya melihat BlackBerry saya mengedipkan lampu merah. Ada DM dan mention di Twitter saya. Ini:

Saya langsung melompat dan berteriak kegirangan! Padahal saya hanya iseng saat mengikuti kuis sore tadi itu. Tapi saya menang! Memang jumlahnya tidak terlalu besar, tapi sungguh – seandainya kuis itu tidak berhadiah pun saya akan tetap senang seandainya saya menang!

Saya serius!

Rasa menang itu selalu menyenangkan, sama menyenangkannya ketika mendapatkan hadiah. Tapi tidak sebegitu menyenangkannya seperti rasa dicintai oleh orang yang kita cintai.

Ah, balik-baliknya jadi ke situ lagi kan? :))

Anyway, ini twit-twit “kemenangan” saya tadi:

Menikahlah karena ingin, bukan karena harus.
5:24 PM – 20 April 12 via UberSocial for BlackBerry

Buat apa dinikahi kalau tidak dicintai?
5:13 PM – 20 April 12 via UberSocial for BlackBerry

Kemudian seseorang yang bernama @chilmia menambahkan:

Dan buat apa dicintai kalau tidak dinikahi?
5:34 PM – 20 April 12 via Plume for Android

Ah. Saya memang masih terlalu percaya bahwa cinta itu harus saling memiliki. Mungkin memang saya tidak termasuk golongan manusia yang berbesar hati yang dapat merelakan orang yang saya cinta mencintai orang lain. Buat saya, itulah kebahagiaan semu.

Sekarang saya tahu, mengapa saya tidak pernah mengalami kebahagiaan semu – karena saya terlalu egois untuk mencintai tanpa dicintai.

Jumat petang di Lotteria. Air jeruk kami habis, dan digantikan oleh dua gelas es teh manis. Sama manisnya, tapi beda rasanya. Tapi tetap kami habiskan.

Seperti itulah mungkin bedanya antara kebahagiaan semu, dan kebahagiaan nyata. Atau, antara kebahagiaan semu dengan kesedihan yang tulus.

Bahagia rasa apa yang kamu suka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s